Pendekar Lembang: Armand Heryana dan Pedang Pusaka Sunan


Armand Heryana: Jawara Asli Jawa Barat yang Brutal Berhati Baik

Oleh Riantrie

Di sudut kota Bandung yang sibuk, seorang pemuda bernama Armand Heryana tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan tradisi silat. Lahir dari darah Sunda dan dibesarkan dalam ajaran Islam yang kuat, Armand sejak kecil sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam seni bela diri, terutama teknik permainan pedang.

Ayahnya, seorang anggota terpandang perguruan silat Pedang Tembaga, melihat potensi dalam diri putranya dan memutuskan untuk mengajarinya silat aliran Cikalong—aliran silat khas Jawa Barat yang terkenal dengan gerakan tangkas dan mematikan. Armand menyerap setiap pelajaran dengan cepat, matanya yang tajam menyimpan determinasi yang jarang dimiliki anak seusianya.

"Silat bukan untuk mencari lawan, Armand. Tapi untuk mencari kawan," begitu pesan sang ayah yang selalu terngiang di telinganya.

Di usia lima belas tahun, Armand telah menguasai ilmu silat Cikalong secara sempurna—sesuatu yang biasanya dicapai setelah bertahun-tahun latihan keras. Gerakannya yang lincah dan pukulannya yang presisi membuat para pesilat senior di perguruan silat terkagum-kagum. Namun, Armand tetap rendah hati, menghormati setiap lawan latihan dan selalu membungkuk dalam-dalam kepada para gurunya.

Setelah lulus SMK di usia tujuh belas tahun, Armand mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang. Alih-alih mengejar karier di dunia bela diri profesional seperti yang diharapkan banyak orang, ia memilih untuk meneruskan usaha toko kelontong milik orangtuanya di pasar tradisional Bandung.

"Saya ingin membantu orangtua saya dulu," jawabnya sederhana ketika ditanya.

Dengan kecerdasan dan kerja kerasnya, Armand berhasil mengembangkan toko kecil itu menjadi lebih besar. Ia menerapkan sistem manajemen modern yang dipelajarinya di SMK, memperluas jaringan pemasok, dan bahkan membuka cabang baru di daerah lain. Dalam waktu dua tahun, roda ekonomi keluarganya berputar jauh lebih baik.

Kehidupan Armand berjalan normal dan damai, hingga suatu ketika berita tentang peredaran narkoba di kawasan Lembang mulai menyebar. Awalnya hanya rumor di warung-warung kopi, namun kemudian menjadi kenyataan yang mengerikan ketika beberapa remaja ditemukan overdosis di dekat sebuah villa terpencil.

Polisi tampak kesulitan mengungkap jaringan pengedar yang terorganisir dengan rapi ini. Masyarakat resah, terutama para orangtua yang khawatir anak-anak mereka akan terjerat narkoba. Armand, yang saat itu sudah berusia 19 tahun, merasakan kegelisahannya semakin dalam ketika mengetahui beberapa pelanggan toko yang masih remaja mulai menunjukkan perubahan perilaku mencurigakan.

"Ini tidak bisa dibiarkan," gumamnya suatu malam, sambil memandangi pedang pusaka pemberian guru ayahnya—sebuah pedang bersejarah yang konon pernah digunakan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon.

Tanpa sepengetahuan orangtuanya, Armand mulai melakukan penyelidikan sendiri. Ia menyamar sebagai pengguna narkoba, mengikuti jejak para pengedar kecil hingga akhirnya berhasil memetakan jaringan distribusi narkoba yang berpusat di sebuah gudang tua di pinggiran Lembang.

Pada suatu malam berhujan, dengan berbekal pedang pusaka dan tekad membara, Armand menyusup ke markas utama para pengedar. Apa yang terjadi malam itu kemudian menjadi perbincangan seluruh Bandung. Dalam pertarungan sengit yang berlangsung hampir dua jam, Armand berhasil melumpuhkan seluruh anggota organisasi mafia narkoba tersebut seorang diri.

Keesokan paginya, polisi dikejutkan dengan pemandangan di gudang tua itu: tiga orang tewas, belasan lainnya mengalami luka parah, dan puluhan anggota geng mengalami luka permanen. Di tengah gudang, ditemukan tumpukan narkoba senilai milyaran rupiah yang siap diedarkan, dan seorang pemuda berlumuran darah yang masih menggenggam pedang.

"Saya hanya ingin menyelamatkan Bandung," ujar Armand lemah ketika diborgol oleh polisi.

Berita penangkapan Armand menghantam keluarganya seperti badai. Ayahnya terkejut melihat putra yang selalu diajarkan tentang kebijaksanaan dalam silat kini tangannya bersimbah darah dan menjadi pembunuh. Namun, di balik keterkejutan itu, ada secercah kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan—putranya telah berjuang untuk kebenaran, meskipun dengan cara yang tidak seharusnya.

"Nak, apapun yang terjadi, ayah akan selalu bersamamu," bisik sang ayah saat mengunjungi Armand di ruang tahanan.

Armand hanya mengangguk pasrah, siap menerima konsekuensi dari tindakannya. Ia tahu bahwa membunuh adalah dosa besar, tapi membiarkan racun menghancurkan generasi muda juga bukan pilihan yang bisa ia terima.

Namun, takdir berkata lain. Beberapa hari kemudian, sekelompok orang berseragam hitam rapi mengunjungi Armand di sel tahanannya. Mereka mengaku berasal dari sebuah organisasi pemerintah rahasia bernama "Singadwirya"—organisasi yang bertugas menangani ancaman-ancaman khusus terhadap keamanan nasional.

"Kami telah mengamatimu sejak lama, Armand," ujar pimpinan mereka, seorang pria paruh baya dengan bekas luka di pipi kanannya. "Kami tahu tentang kemampuanmu, tentang keberanianmu, dan yang paling penting—tentang hatimu yang ingin melindungi orang lain."

Mereka menawarkan sebuah kesepakatan: Singadwirya akan membersihkan nama Armand dari jeratan hukum, dengan syarat ia harus bergabung dengan organisasi tersebut dan menggunakan kemampuannya untuk misi-misi khusus demi kepentingan negara.

Setelah berdiskusi panjang dengan ayahnya, Armand akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Sang ayah memberikan restu dengan mata berkaca-kaca, memahami bahwa takdir putranya memang bukan sebagai penerus toko kelontong biasa.

"Jadilah pelindung yang baik, Nak. Ingat selalu ajaran silat kita: kekuatan sejati bukan untuk menindas, tapi untuk melindungi yang lemah," pesan terakhir ayahnya sebelum Armand dibawa pergi oleh para agen Singadwirya.

Kini, di bawah perlindungan organisasi Singadwirya, Armand Heryana mendapat gelar khusus sebagai anggota "Jawara Tanah Indonesia"—sebuah unit khusus yang beranggotakan para master bela diri tradisional dari berbagai penjuru Nusantara. Misinya adalah melindungi Indonesia dari ancaman-ancaman yang tidak bisa ditangani melalui jalur hukum konvensional.

Di balik sosoknya yang brutal di medan pertempuran, tersimpan hati seorang anak Bandung yang ingin melihat kotanya, dan Indonesia secara keseluruhan, bebas dari kejahatan yang menggerogoti masa depan generasi muda. Sebuah tekad yang membuatnya layak menyandang gelar Jawara Asli Jawa Barat.

Berlanjut ke kisah selanjutnya!

(Diperkaya oleh AI dengan sentuhan manusia)

Desain generated AI berdasarkan dari attachment gambar karya Riantrie:




Cerita ditampilkan melalui polesan AI dengan sentuhan manusia serta prompt yang detail dan rumit oleh Riantrie.

Komentar