Jin Terbang Chapter 2 Part 2
Dengan bantuan Profesor Wayan, Anto mulai memasuki zirah tersebut. Bagian-bagian zirah bergerak secara otomatis, menutup dan mengunci di sekitar tubuhnya. Helm dengan struktur tanduk di dahi mirip Monas dan enam bilah besi serupa kembang kelapa ondel-ondel di belakang menutup kepalanya terakhir.
Interface digital menyala di depan mata Anto, menampilkan berbagai data dan tampilan lingkungan sekitar yang ditingkatkan.
"Sistem operasi aktif," suara AI zirah berbicara dalam bahasa Indonesia. "Selamat datang di Jet Tornado. Mohon identifikasi pengguna."
"A-Anto," jawab Anto gugup. "Muhammad Junianto."
"Identifikasi pengguna diterima. Kalibrasi sistem dimulai."
Anto merasakan sensasi aneh ketika zirah mulai menyesuaikan dengan tubuhnya. Beratnya yang tadinya terasa berton-ton kini seringan baju biasa.
"Anto," suara Profesor Wayan terdengar melalui komunikator zirah. "Dengarkan aku. Jet Tornado menggunakan teknologi manipulasi udara. Pikirkan gerakan yang ingin kau lakukan, dan zirah akan meresponnya. Untuk terbang, bayangkan angin mengangkat tubuhmu."
"Saya mengerti, Profesor," jawab Anto, mencoba bergerak perlahan. Tangannya terangkat dengan mulus, mengikuti keinginannya.
Tepat saat itu, pintu ruangan hancur didobrak. Para penyusup menerobos masuk dengan senjata siaga.
"Mereka di sini!" teriak salah satu penyusup. "Dan zirahnya sudah aktif!"
"Tangkap mereka semua!" perintah pemimpin kelompok. "Prioritaskan zirah itu!"
Profesor Wayan menarik Bu Atik ke belakang meja kontrol untuk berlindung, sambil berteriak pada Anto. "Aktifkan sistem pertahanan, Anto! Konsentrasi pada aliran udara di sekitarmu!"
Anto mencoba berkonsentrasi, membayangkan angin berputar di sekitarnya. Secara ajaib, udara di sekitar zirah mulai bergerak, membentuk pusaran kecil.
"Sistem manipulasi udara aktif," AI zirah memberitahu. "Level 1 terkunci."
Para penyusup mulai menembak, tapi peluru-peluru memantul dari permukaan zirah tanpa meninggalkan bekas. Pusaran angin di sekitar Anto semakin kuat, mengacaukan tembakan mereka.
"Woah!" seru Anto, takjub dengan kemampuan zirah. "Ini keren banget!"
Memanfaatkan keunggulannya, Anto bergerak maju dan menciptakan hembusan angin kuat yang menghempaskan beberapa penyusup ke belakang.
"Profesor! Bu Atik! Ikuti saya!" teriak Anto.
Profesor Wayan dan Bu Atik bergegas ke belakang Anto, berlindung dari tembakan.
"Kita harus ke area publik," kata Bu Atik. "Di sana banyak petugas keamanan."
"Baik!" angguk Anto di dalam zirah. "Pegangan!"
Anto membayangkan udara mengangkat tubuhnya, dan seketika ia merasakan zirah terangkat dari lantai. Dengan satu tangan memegang Profesor Wayan dan satu tangan lagi memegang Bu Atik, Anto mulai terbang keluar dari ruangan, meninggalkan para penyusup yang berteriak marah.
"Sistem propulsi level 2 aktif," suara AI memberitahu. "Pengaturan kecepatan dan stabilitas otomatis."
Anto terbang menyusuri koridor menuju area pameran utama Lantera Expo. Saat mereka tiba di sana, pengunjung masih banyak yang belum menyadari bahaya, sibuk menikmati berbagai pameran teknologi.
"Turunkan kami di sini," perintah Profesor Wayan. "Kau harus mengalihkan perhatian para penyusup sementara kami evakuasi pengunjung."
Anto menurunkan Profesor dan Bu Atik di dekat pintu keluar darurat, lalu terbang kembali ke arah datangnya para penyusup.
Para pengunjung yang melihat sosok terbang dengan zirah futuristik itu mulai berbisik-bisik kagum.
"Lihat! Apa itu?"
"Wah, teknologi Lantera memang keren!"
"Apa itu bagian dari atraksi?"
Beberapa pengunjung mulai mengambil foto dan video, mengira ini adalah bagian dari pertunjukan Lantera Expo.
Tak lama, para penyusup muncul dengan senjata teracung. Beberapa pengunjung mulai panik dan berteriak saat menyadari ini bukan pertunjukan.
"Baiknya kalian enyah dari sini!" Anto berteriak pada para penyusup melalui pengeras suara zirah.
"Menyerahlah!" balas pemimpin penyusup. "Kami punya orang di seluruh gedung ini. Tak ada jalan keluar!"
"Kalau begitu, gua yang bakal bikin jalan keluar!" balas Anto.
Dengan konsentrasi penuh, Anto membayangkan pusaran angin yang lebih besar. Udara di sekitarnya mulai berputar kencang, membentuk tornado mini yang mengangkat beberapa penyusup dan menghempaskan mereka ke dinding.
Para pengunjung yang menyaksikan itu bersorak dan mulai berteriak:
"Lihat! Mirip sosok Jin! Jin Terbang!"
"Dia melindungi kita!" Beberapa pengunjung yang meyakini hal-hal gaib berseru spontan.
Anto mendengar sebutan itu dan sedikit terkejut campur bingung dalam helmnya. "Apa mereka panggil gua? Jin Terbang?"
Memanfaatkan tornado mini yang diciptakannya, Anto terbang di atas kerumunan. "Semuanya, harap tenang dan segera menuju pintu keluar! Ini bukan pertunjukan! Ada penyusupan!"
Bu Atik dan tim keamanan Lantera mulai mengarahkan pengunjung ke pintu keluar darurat, sementara Anto terus mengalihkan perhatian para penyusup dengan kemampuan manipulasi udaranya.
Namun, pemimpin kelompok penyusup tidak menyerah. Dia mengeluarkan sebuah senjata khusus yang tampak berbeda.
"Kau pikir angin kecilmu bisa menghentikan kami?" teriaknya. "Kau tidak tahu siapa kami!"
Ia menembakkan senjata itu, yang melepaskan semacam jaring energi. Jaring itu menembus pusaran angin Anto dan mengenai zirah, menyebabkan sistem propulsinya terganggu.
"Peringatan: Sistem propulsi tidak stabil," suara AI memberitahu. "Gangguan elektromagnetik terdeteksi."
Anto mulai kehilangan ketinggian, zirahnya bergerak tidak beraturan. "Ugh, kendaliin... ayo kendaliin...!"
Saat Anto hampir jatuh, Profesor Wayan muncul dengan perangkat kecil di tangannya. Ia mengarahkannya pada para penyusup dan menekan tombol, melepaskan gelombang energi yang membuat senjata pemimpin penyusup meledak di tangannya.
"Anto! Pergilah!" teriak Profesor. "Bawa Jet Tornado ke tempat aman! Kami akan tangani sisanya!"
"Tapi Profesor—"
"Pergi sekarang!" potong Profesor Wayan. "Penting untuk mengamankan teknologi ini dari Empat Naga! Kami akan menghubungimu nanti!"
Dengan berat hati, Anto mengaktifkan sistem propulsi lagi. Kali ini, ia membayangkan angin yang lebih kuat, mendorongnya menembus atap kaca gedung expo. Serpihan kaca beterbangan saat Anto melesat ke langit Jakarta.
"Sistem propulsi level 3 aktif," suara AI memberitahu. "Kecepatan optimal tercapai."
Anto terbang tinggi di atas Jakarta, memberikan waktu bagi keamanan Lantera untuk menangani para penyusup. Dari ketinggian, ia bisa melihat seluruh kota membentang luas, dengan Monas berdiri tegak di tengahnya.
"Jet Tornado," gumam Anto. "Apa tadi? Jin Terbang...?"
Saat Anto melayang di langit Jakarta, beberapa orang di bawah melihat ke atas dan menunjuk sosok terbang itu dengan takjub. Beberapa bahkan mengambil foto dan video dengan ponsel mereka.
"Lihat di atas! Apa itu?"
"Mirip manusia terbang!"
"Jin! Itu pasti Jin Terbang!"
Nama itu menyebar dengan cepat. Orang-orang di sekitar area Kemayoran mulai merekam dan membagikan penampakan sosok misterius yang terbang di langit Jakarta.
***
Sementara itu, di sebuah markas tersembunyi di pinggiran Bandung, seorang pria menatap layar yang menampilkan rekaman sosok terbang yang mulai viral di media sosial. Wajahnya yang setengah tertutup bayangan tampak geram.
"Jadi operasi kita gagal," ucapnya dengan nada dingin. "Dan sekarang ada 'Jin Terbang' yang melindungi proyek Jet Tornado mereka."
"Maafkan kami, Tuan Fard," seorang anak buahnya menunduk takut. "Kami tidak menyangka Profesor Wayan akan mengaktifkan prototipe kedua dan memberikannya pada orang luar."
Fard, pemimpin divisi Jawa Barat organisasi Empat Naga, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. "Profesor Wayan memang cerdik. Dia tahu kita mengincar teknologi manipulasi elemen dari batu langit itu."
"Apa rencana kita selanjutnya, Tuan?"
Fard tersenyum dingin. "Persiapkan pabrik robot. Kita tidak hanya akan merebut Jet Tornado, tapi juga mengumpulkan seluruh informasi tentang batu langit dari Singadwirya." Ia menatap layar yang menampilkan sosok Jin Terbang dan robot raksasa misterius. "Dan temukan identitas asli Jin Terbang ini. Dia hanyalah amatir yang tidak tahu bahwa telah membangkitkan musuh yang salah."
***
Keesokan harinya, Anto kembali ke toko elektronik Haji Udin dengan perasaan campur aduk. Setelah insiden kemarin, Profesor Wayan menghubunginya dan memintanya untuk merahasiakan identitasnya sebagai Jin Terbang, demi keamanannya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Zirah Jet Tornado kini tersimpan aman di apartemen rahasia yang disiapkan Profesor Wayan untuknya, dengan sistem keamanan canggih. Profesor juga memintanya untuk datang ke kantor pusat Lantera minggu depan untuk pelatihan khusus, bersiap menghadapi pameran susulan yang akan digelar di Senayan beberapa bulan ke depan.
"Eh, To! Lo udah liat berita pagi ini?" tanya Bang Doddy begitu Anto tiba di toko.
"Berita apa, Bang?" tanya Anto, pura-pura tidak tahu.
"Ada Jin Terbang di Kemayoran!" seru Kang Adang. "Ada videonya di internet. Katanya pas Lantera Expo diserang kemarin."
Mbak Renny menunjukkan ponselnya. "Iya, Mas Anto. Katanya Jin Terbang ini pahlawan yang melindungi pengunjung expo."
Di layar ponsel, tampak rekaman sosok berzirah perak yang terbang di atas gedung expo. Kualitasnya tidak terlalu jelas, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa itu adalah Anto dalam zirah Jet Tornado.
"Wah, keren ya," Anto berusaha terdengar biasa. "Eh, ngomong-ngomong, Pak Haji udah dateng?"
"Belom tuh," jawab Bang Doddy. "Eh, gimana expo kemaren? Lo ketemu orang-orang pinter di sana kan?"
"Iya, gue ketemu sama beberapa peneliti. Seru banget!" Anto tersenyum, menyimpan rahasia terbesarnya. "Ada banyak teknologi canggih yang gue liat."
Sementara teman-temannya bersemangat membicarakan Jin Terbang, Anto merenung dalam hati. Kehidupannya baru saja berubah selamanya. Dari teknisi toko elektronik biasa, kini ia menjadi pilot zirah canggih dengan kekuatan manipulasi udara.
"Jin Terbang?" gumamnya pelan. "Siapa sangka gue bakal jadi pahlawan?"
BERSAMBUNG...
(CHAPTER 2 TAMAT)
Ide cerita, nama karakter oleh Riantrie
Desain visual di-generate oleh AI, belum menjadi rancangan yang mutlak dan konsisten.
Disclaimer: Cerita ini hanya bersifat pengenalan karakter dan atmosfer yang dibangun. Dialog serta beberapa narasi melibatkan AI dengan sentuhan manusia, menggunakan prompt yang detail dan orisinal dari satu adegan ke adegan lain.
Komentar
Posting Komentar