Jin Terbang Chapter 2 Part 1
Matahari Jakarta sudah bergeser ke barat ketika Anto kembali ke toko elektronik Haji Udin. Wajahnya masih berseri-seri, kartu nama Bu Atik tergenggam erat di tangannya.
"Woi, To! Lo kemana aja? Ceritain dong kejadiannya!" seru Bang Doddy yang sudah pulih dari insiden tabrakan tadi.
"Iya, Mas. Tadi sampai kejar-kejaran ya?" Mbak Renny menimpali dengan wajah khawatir.
Anto tersenyum lebar, mengibaskan kartu nama di tangannya. "Gue ngejar tuh jambret sampe ujung gang. Dia ngeluarin pistol, tapi tiba-tiba kena timpuk pot dari atas. Eh, ternyata yang punya tas direktur SDM Lantera, bro!"
"Lantera? Yang punya pameran teknologi itu?" Kang Adang berseru takjub.
"Nah, itu dia! Gue dikasih kartu namanya. Siapa tau bisa dapet tiket gratis ke Lantera Expo di Kemayoran," Anto nyengir lebar.
Pak Haji Udin menepuk bahu Anto. "Alhamdulillah, rezeki emang gak kemana. Tapi lain kali ati-ati ye, To. Jangan main pahlawan kalo orangnya bawa pistol."
"Siap, Pak Haji!" Anto mengangguk mantap.
***
Malam harinya di kontrakan, Anto menatap kartu nama Bu Atik sambil menimbang-nimbang. "Gue telepon sekarang apa besok ya? Takut ganggu malem-malem gini."
Setelah berpikir beberapa saat, Anto memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja. Dengan hati-hati, ia mengetik:
"Assalamualaikum, Bu Atik. Saya Anto yang tadi pagi membantu mengejar jambret. Mohon maaf mengganggu malam-malam. Saya hanya ingin memastikan Ibu baik-baik saja. Terima kasih."
Tak disangka, beberapa menit kemudian ponselnya berdering. Nama "Atik Mujiani" muncul di layar.
"As-Assalamualaikum," Anto menjawab gugup.
"Waalaikumsalam, Anto! Terima kasih sudah mengirim pesan. Saya baik-baik saja berkat bantuan kamu tadi pagi," suara Bu Atik terdengar ramah.
"Alhamdulillah kalau begitu, Bu."
"Ngomong-ngomong, Anto, saya merasa berhutang budi padamu. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Anto menelan ludah. Inilah kesempatannya. "Sebenarnya, Bu... saya sangat tertarik dengan teknologi dan sains. Saya lihat di selebaran, Lantera akan mengadakan expo lima hari lagi di Kemayoran..."
"Ah, kamu tertarik dengan Lantera Expo?" potong Bu Atik cepat. "Kebetulan sekali! Bagaimana kalau kamu datang sebagai tamu khusus saya? Bahkan, saya bisa mengenalkanmu pada beberapa peneliti kami."
Mata Anto berbinar. "Serius, Bu? Wah, terima kasih banyak! Saya sangat senang sekali!"
"Sama-sama, Anto. Ini nomor terlalu kecil dibanding apa yang kamu lakukan tadi pagi. Besok saya akan kirimkan undangan resminya ke emailmu. Kirimkan saja alamat emailmu lewat pesan."
Setelah mengakhiri panggilan, Anto berguling-guling di kasurnya dengan perasaan gembira. "Ya Allah, terima kasih! Mimpi gue mau ke Lantera akhirnya kesampaian!"
***
Pagi berikutnya, Anto tiba di toko dengan wajah sumringah.
"Eh, ada apa nih? Kayaknya seneng banget," goda Mbak Renny.
"Bu Atik telepon gue semalem. Beliau ngundang gue ke Lantera Expo di Kemayoran, bahkan mau ngenalin gue ke peneliti di sana!"
"Serius lo, To? Wah, beruntung banget!" seru Kang Adang.
Bang Doddy menepuk punggung Anto. "Rezeki orang baik emang gak kemana. Lo kan emang doyan begituan, pantes aja dikasih kesempatan."
Pak Haji Udin tersenyum mendengar kabar baik itu. "Gue kasi izin lo buat dateng ke sana, To. Kapan jadwalnya?"
"Empat hari lagi, Pak Haji. Hari Minggu, jadi gak ganggu kerjaan," jawab Anto.
"Bagus. Siapa tau nanti lo bisa kerja di sana, kan? Meskipun gue bakal kehilangan teknisi andalan," Pak Haji tertawa.
Anto tersenyum malu. "Ah, Pak Haji bisa aja. Gue mah cuma pengen belajar, lihat-lihat teknologi canggih."
***
Empat hari berlalu dengan cepat. Pagi-pagi sekali, Anto sudah bersiap dengan kemeja terbaiknya. Ia mematut diri di cermin kecil kontrakannya.
"Aduh, rambut gue berantakan banget," keluhnya sambil menyisir rambut tebalnya yang hampir gondrong. Dengan gaya ala Barry Prima, idola film laga Indonesia, Anto merasa lumayan percaya diri.
Motornya sudah ia service khusus kemarin, agar tidak mogok di tengah jalan. Dengan hati berdebar, Anto mengendarai motornya menuju kompleks area pameran Lantera Expo di Kemayoran.
Setibanya di sana, Anto terkesima melihat gedung megah berarsitektur futuristik. Desainnya campuran gaya modern dengan sentuhan budaya Indonesia. Di depan gedung utama, logo Lantera—sebuah lentera digital dengan api biru—bersinar terang.
"Permisi, saya tamu Bu Atik Mujiani," kata Anto kepada petugas keamanan.
Setelah memeriksa daftar tamu dan undangan digital yang dikirimkan Bu Atik, petugas tersebut mengangguk. "Silakan, Pak. Bu Atik sudah menunggu di lobi utama."
Anto melangkah masuk dengan takjub, matanya tak henti menjelajahi setiap sudut arsitektur canggih gedung tersebut. Di lobi utama, Bu Atik menyambutnya dengan hangat.
"Anto! Senang kamu bisa datang. Bagaimana perjalananmu?"
"Lancar, Bu. Terima kasih banyak atas undangannya," Anto menjabat tangan Bu Atik dengan sopan.
"Mari, saya akan menunjukkan beberapa hal menarik sebelum expo dimulai untuk umum," ajak Bu Atik. "Dan saya ingin mengenalkanmu pada seseorang yang sangat penting."
Mereka berjalan melewati koridor-koridor berteknologi tinggi. Bu Atik menjelaskan berbagai penelitian yang sedang dilakukan Lantera, mulai dari energi terbarukan, kecerdasan buatan, hingga nanoteknologi.
"Ini lab robotika kami," kata Bu Atik, menunjukkan ruangan luas berisi berbagai robot dengan fungsi berbeda. "Dan di sebelah sana, lab material canggih, tempat kami mengembangkan berbagai material baru untuk industri."
Anto mengangguk-angguk antusias, sesekali bertanya hal-hal teknis yang membuat Bu Atik terkesan.
"Kamu tahu banyak tentang sains ya, Anto? Padahal kamu bilang belum pernah kuliah formal?"
"Iya, Bu. Saya belajar otodidak dari buku-buku dan internet. Hobi saya sejak kecil," jawab Anto malu-malu.
Bu Atik tampak berpikir sejenak. "Hmm, menarik sekali. Kita butuh lebih banyak pemuda sepertimu di Indonesia."
Mereka melanjutkan tur, hingga tiba di depan sebuah pintu dengan pengamanan ekstra.
"Ini area terbatas," jelas Bu Atik. "Biasanya hanya staf khusus yang boleh masuk, tapi saya sudah meminta izin untuk membawamu ke dalam."
Bu Atik menempelkan kartu identitasnya dan melakukan pemindaian retina. Pintu terbuka, menampilkan lorong panjang yang mengarah ke ruangan besar.
"Ini laboratorium khusus Profesor Wayan Santosa," Bu Atik berbisik. "Salah satu ilmuwan terbaik kami."
Anto mengikuti Bu Atik masuk ke dalam laboratorium. Di tengah ruangan, seorang pria paruh baya dengan rambut putih tipis dan kacamata bulat sedang meneliti sesuatu di layar komputer.
"Profesor Wayan," sapa Bu Atik.
Pria itu mengalihkan pandangannya dari layar dan tersenyum. "Ah, Bu Atik. Ini pasti tamu istimewa yang Anda ceritakan?"
"Benar. Ini Muhammad Junianto, atau Anto, pemuda yang menyelamatkan tas saya dari jambret kemarin."
Profesor Wayan mendekati Anto dan menjabat tangannya erat. "Senang berkenalan denganmu, Anak Muda. Aku Profesor Wayan Santosa, kepala peneliti di sini."
"Senang berkenalan juga, Profesor," balas Anto gugup.
"Anto sangat tertarik dengan teknologi, Profesor," jelas Bu Atik. "Saya pikir dia mungkin ingin melihat proyek khusus yang sedang Anda kerjakan."
Mata Profesor Wayan berbinar. "Benarkah? Kebetulan sekali! Aku baru saja menyelesaikan prototipe terbaru. Mari, ikut aku."
Profesor Wayan membawa mereka ke ruangan lain yang lebih dalam. Di tengah lab, dalam kotak kaca transparan, terpajang zirah putih mengkilap yang tampak futuristik.
"Ini proyek rahasia Lantera," Profesor Wayan menjelaskan dengan bangga. "Namanya Jet Tornado."
Anto terpana melihat zirah tersebut. Desainnya elegan namun kuat, dengan sentuhan etnik Indonesia. Helm zirah itu memiliki struktur seperti puncak Monas di tengahnya dan enam bilah menyerupai kembang kelapa ondel-ondel di kedua sisi.
"Jet Tornado," Anto mengulangi nama itu perlahan. "Keren banget, Profesor!"
"Zirah ini menggunakan teknologi manipulasi atom udara," jelas Profesor Wayan. "Dengan mengubah struktur molekul udara, zirah ini bisa menghasilkan dorongan untuk terbang, bahkan menciptakan angin hingga tornado mini untuk pertahanan."
"Seperti Iron Man?" tanya Anto spontan, lalu merasa malu dengan perbandingannya.
"Ya, mirip seperti itu, tapi dengan teknologi khas Indonesia," Profesor Wayan tertawa. "Yang membuat Jet Tornado istimewa adalah sumber energinya. Kami menemukan material langka yang memiliki kemampuan luar biasa untuk memanipulasi elemen udara."
Saat Profesor Wayan hendak menjelaskan lebih lanjut, mendadak alarm keamanan berbunyi keras.
"PERHATIAN KEPADA SELURUH STAF DAN PENGUNJUNG. HARAP SEGERA MENUJU AREA EVAKUASI. INI BUKAN LATIHAN. ULANGI, INI BUKAN LATIHAN."
"Ada apa ini?" Bu Atik segera memeriksa tabletnya.
Sesaat kemudian, pintu lab terbuka dengan keras. Seorang staf berlari masuk dengan panik. "Profesor Wayan! Ada penyusupan! Beberapa orang bersenjata memaksa masuk ke area utara!"
"Bagaimana bisa?!" seru Profesor Wayan.
"Mereka menonaktifkan sistem keamanan utama," jelas staf itu. "Tampaknya mereka mengincar sesuatu. Tim keamanan sedang berusaha menghadang mereka."
Bu Atik menoleh pada Anto dengan wajah cemas. "Sebaiknya kita ikuti protokol evakuasi."
Namun sebelum mereka sempat bergerak, terdengar ledakan keras dari luar ruangan. Lantai bergetar hebat.
"Mereka sudah dekat!" seru Profesor Wayan. "Kita harus mengamankan Jet Tornado!"
Tepat saat itu, pintu laboratorium hancur dihantam sesuatu yang kuat. Beberapa pria bertopeng hitam menerobos masuk dengan senjata teracung.
"Jangan bergerak!" teriak salah satu dari mereka. "Kami menginginkan zirah itu!"
"Kalian tidak berhak masuk ke sini!" teriak Bu Atik.
"Diam!" bentak pemimpin kelompok penyusup. "Profesor Wayan Santosa, buka pengaman zirah itu sekarang juga!"
Profesor Wayan berdiri tegak, matanya menatap tajam. "Saya tidak akan melakukannya."
Penyusup itu menembakkan pistolnya ke langit-langit, membuat semua orang terlonjak kaget. "Jangan bermain-main dengan kami! Kami tahu Anda bekerja untuk Singadwirya!"
Mendengar nama itu, wajah Profesor Wayan mengeras, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Dalam situasi tegang itu, insting Anto bekerja cepat. Ia melihat sebuah tabung pemadam kebakaran di dekatnya. Dengan gerakan kilat, Anto meraih tabung itu dan menyemprotkan isinya ke arah para penyusup.
"AAAAHH!" teriaknya sambil menciptakan kabut putih tebal.
Kabut itu membuat para penyusup kesulitan melihat dan mulai menembak sembarangan. Memanfaatkan kekacauan, Profesor Wayan menyeret Anto dan Bu Atik ke arah pintu rahasia di sudut laboratorium.
"Lewat sini!" bisiknya.
Mereka bertiga melarikan diri melalui koridor darurat yang sempit, sementara suara tembakan dan teriakan marah terdengar dari belakang.
"Siapa mereka, Profesor?" tanya Anto sambil berlari.
"Empat Naga," jawab Profesor dengan suara rendah. "Organisasi kriminal yang selalu berusaha mengganggu stabilitas negara. Mereka mengincar teknologi Jet Tornado."
Mereka tiba di ruangan lain yang lebih kecil. Di tengahnya, terdapat zirah identik dengan yang di laboratorium utama, hanya saja berwarna perak alih-alih putih.
"Ini prototipe kedua Jet Tornado," jelas Profesor Wayan. "Belum sempurna, tapi fungsional. Kebetulan prototipe ini sudah kami pasangi energi inti sebelum serangan."
Bu Atik menatap Profesor dengan cemas. "Apa yang akan kita lakukan?"
"Tidak ada pilihan," Profesor menggeleng. "Kita harus mengaktifkannya."
Terdengar suara derap langkah dari koridor. Para penyusup semakin dekat.
"Tapi siapa yang akan mengendalikannya?" tanya Bu Atik.
Profesor Wayan tiba-tiba menoleh pada Anto. "Kau, Anak Muda."
"Sa-saya?" Anto terkejut. "Tapi saya tidak tahu cara—"
"Tidak ada waktu untuk ragu," potong Profesor. "Kau punya intuisi teknis yang bagus. Aku bisa melihatnya dari cara kau berbicara tentang teknologi. Sistem zirah ini dirancang untuk merespons insting pengguna."
Anto menelan ludah, tapi mengangguk. "Baiklah, saya akan coba."
BERSAMBUNG
(LANJUT PART 2)
Ide cerita, nama karakter oleh Riantrie
Desain visual di-generate oleh AI, belum menjadi rancangan yang mutlak dan konsisten.
Disclaimer: Cerita ini hanya bersifat pengenalan karakter dan atmosfer yang dibangun. Dialog serta beberapa narasi melibatkan AI dengan sentuhan manusia, menggunakan prompt yang detail dan orisinal dari satu adegan ke adegan lain.
Komentar
Posting Komentar