Jin Terbang Chapter 1
Pagi itu cerah di Jakarta. Suara adzan subuh baru saja usai, dan Muhammad Junianto—yang akrab disapa Anto—melangkah keluar dari masjid dengan hati ringan. Umurnya baru menginjak 26 tahun, tapi kisah hidupnya sudah berliku sejak ia ditinggalkan di asrama yatim piatu Rumah Berkah oleh seorang pria misterius yang diduga ayahnya.
"Alhamdulillah, pagi yang bagus," gumamnya sambil menghirup udara Jakarta yang masih segar.
Sepanjang jalan menuju kontrakannya, Anto menikmati pemandangan kota yang mulai terjaga. Langkahnya terhenti saat rombongan ondel-ondel lewat di hadapannya.
"Wuih, keren amat nih ondel-ondel!" serunya terkesima, mata tak lepas dari sosok besar dengan hiasan kembang kelapa yang bergoyang-goyang di kepala boneka raksasa itu.
Sebelum pulang, Anto mampir ke lapak penjual batu akik dekat kontrakannya. Meskipun tak punya uang untuk membeli, ia senang mengamati kilauan batu-batu itu.
"Bang Joni, ada barang baru, gak?" tanyanya pada si penjual.
"Ada nih, To. Bacan doko berkualitas. Lo mau?"
"Gue mah cuma liat-liat dulu. Duit gue lagi tipis," jawab Anto sambil tertawa.
Sesampainya di kontrakan, Anto langsung bersiap berangkat kerja. Ia mengenakan seragam mekanik berwarna biru tua dengan nama "Toko Elektronik Haji Udin" tercetak di bagian dada. Setelah sarapan seadanya—roti dan teh manis—ia menyalakan motor bebek tuanya.
"Duh, motor gue udah kayak kakek-kakek nih," keluhnya sambil menepuk-nepuk jok motor yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Motor itu memang sudah kuno, tanpa kopling dan kadang sulit distarter. Tapi bagi Anto, motor ini adalah harta berharga.
Dalam perjalanan ke toko, Anto melewati Monas. Setiap kali melintas, ia selalu terpesona melihat tugu kebanggaan Jakarta itu menjulang tinggi.
"Gue gak pernah bosen liat lo, Nas," gumamnya pada Monas, seolah bicara dengan teman lama.
Toko Elektronik Haji Udin terletak di area yang cukup strategis. Ketika Anto tiba, Pak Haji Udin sudah berdiri di depan toko, sibuk membuka gembok.
"Eh, Anto! Lo dateng pagi bener hari ini," sapa Pak Haji Udin dengan logat Betawi kental.
"Iya nih, Pak Haji. Gue abis subuhan di masjid, sekalian langsung ke sini aja," jawab Anto sambil membantu membuka pintu toko.
Tak lama kemudian, Mbak Renny dan Kang Adang tiba. Renny, janda cantik berhijab yang pemalu, menyapa Anto dengan senyum manis.
"Pagi, Mas Anto," sapa Renny lembut.
"Pagi juga, Mbak Renny," balas Anto, berusaha tidak tersipu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Anto diam-diam mengagumi Renny, tapi tak pernah berani mengungkapkannya.
Kang Adang, yang selalu tampil klimis dengan kemeja rapi, menyapa dengan ramah, "Wah, Anto udah nyampe duluan nih. Rajin bener!"
"Iya nih, Kang. Gue bantu lo beresin toko, yuk," ajak Anto.
Mereka berdua mulai menyapu, mengelap kaca etalase, dan merapikan barang-barang elektronik yang dipajang. Saat sedang membersihkan meja kasir, mata Anto tertuju pada selebaran yang tergeletak di sana.
"LANTERA EXPO 2025: TEKNOLOGI MASA DEPAN INDONESIA"
Anto mengambil selebaran itu, membacanya dengan seksama. Matanya berbinar.
"Wah, Lantera Expo tinggal lima hari lagi," gumamnya. "Gue banget nih."
Lantera (Lembaga Aplikasi Nasional Teknologi dan Rekayasa) adalah lembaga riset teknologi masa depan milik pemerintah Indonesia yang selalu menjadi idola Anto. Meski tak pernah kuliah formal, Anto punya ketertarikan besar pada sains. Di waktu luangnya, ia selalu membaca buku-buku fisika, kimia, dan matematika dari perpustakaan umum.
"Lo mau dateng ke sana, To?" tanya Kang Adang yang melihat Anto melamun menatap selebaran.
"Pengen banget sih, Kang. Tapi duit gue abis buat bayar kontrakan bulan ini," jawab Anto lesu. "Tahun depan deh, insya Allah."
Tak lama kemudian, suara motor berdecit terdengar dari luar. Bang Doddy, si teknisi gondrong yang blak-blakan, tiba dengan gayanya yang khas.
"Pagi, coy!" seru Doddy sambil memasuki toko. Penampilannya agak dekil dengan rambut gondrong dan kaus lusuh, tapi kemampuannya dalam memperbaiki elektronik tak diragukan lagi. "Wah, pada rajin nih pagi-pagi udah beres-beres."
"Elo yang telat, Bang," canda Anto.
"Gue mau beli kopi dulu di seberang," kata Doddy sambil menunjuk warung di seberang jalan.
Ketika Doddy hendak menyeberang, tiba-tiba seseorang berlari kencang dan menabraknya hingga terjatuh.
"Woi! Jalan pake mata dong!" teriak Doddy kesal.
Belum sempat orang itu membalas, terdengar suara teriakan panik dari kejauhan.
"Tolong! Tas saya dijambret! Tolong!"
Anto yang sedang menyapu halaman toko langsung menoleh. Ia melihat Doddy terjatuh dan seorang pria berlari kencang menjauhi lokasi dengan membawa tas.
Tanpa pikir panjang, Anto melempar sapunya dan berlari mengejar si jambret.
"Anto! Lo mau kemana?" teriak Pak Haji Udin, tapi Anto sudah melesat cepat.
Anto berlari melewati gang-gang sempit, melompati tumpukan kardus, dan menyelip di antara pejalan kaki. Beberapa warga yang melihat aksi kejar-kejaran itu ikut bergabung dalam pengejaran, meski tak secepat Anto.
"Berhenti lo!" teriak Anto, jaraknya semakin dekat dengan si jambret.
Di ujung jalan, seorang pria sudah menunggu di atas motor yang menyala. Si jambret berlari menuju temannya itu, bersiap untuk kabur.
Anto mempercepat larinya, tangannya hampir meraih kerah baju si jambret ketika pria itu berbalik dengan cepat.
"Mundur lo!" ancam si jambret, mengeluarkan pistol dari balik bajunya.
Anto terhenti, mengangkat tangannya dengan waspada. Para warga yang mengejar di belakang Anto juga berhenti mendadak.
"Wah, pistol mainan tuh!" celetuk salah seorang warga.
Si jambret menatap tajam ke arah warga tersebut, lalu menembakkan pistolnya ke udara. Suara tembakan yang keras membuktikan bahwa senjata itu asli. Warga-warga mundur ketakutan.
"Gue gak main-main!" teriak si jambret, bersiap menembak lagi.
Ketika letusan kedua terdengar, sesuatu yang tak terduga terjadi. Sebuah pot bunga besar tiba-tiba jatuh dari atas, tepat mengenai kepala si jambret. Pria itu langsung ambruk tak sadarkan diri.
Anto dan para warga mendongak, mendapati seorang ibu-ibu berdiri di beranda lantai dua sebuah rumah dengan ekspresi kaget.
"Ampun, saya kaget dengar suara tembakan! Pot bunganya jatuh sendiri!" teriak ibu itu.
Temannya yang berada di atas motor melongo melihat kejadian itu, lalu dengan panik langsung kabur tanpa sempat mengambil tas hasil jambretan.
Para warga bertepuk tangan dan bersorak untuk ibu di beranda yang secara tidak sengaja menjadi pahlawan. Anto segera mengambil tas yang tergeletak di samping si jambret yang pingsan, sementara beberapa warga lain mengamankan pria tersebut.
"Ibu, ini tas Ibu?" tanya Anto, menghampiri seorang wanita paruh baya yang tampak panik.
"Ya Allah, terima kasih, Nak!" seru wanita itu lega. "Terima kasih sudah menolongku."
Wanita itu memeriksa isi tasnya, memastikan semuanya masih lengkap. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya pada Anto.
"Namaku Atik Mujiani. Aku Direktur SDM di Lantera," katanya.
Mata Anto membelalak. "Lantera? Maksud Ibu, lembaga riset teknologi itu?"
"Betul sekali," angguk Bu Atik. "Kalau kamu butuh sesuatu, hubungi saja nomor di kartu itu, ya. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu hari ini."
"PASTI, Bu!" seru Anto dengan semangat, hampir tak percaya dengan keberuntungannya. Dalam hati, ia langsung berpikir tentang Lantera Expo yang akan digelar lima hari lagi.
Bu Atik tersenyum, lalu berpamitan dan berterima kasih sekali lagi pada Anto dan para warga yang telah membantunya.
Dengan kartu nama Bu Atik tergenggam erat di tangannya, Anto kembali ke toko dengan hati berbunga-bunga.
"Lo gak apa-apa, To?" tanya Pak Haji Udin khawatir saat Anto kembali.
"Gue gak apa-apa, Pak Haji. Malah dapet rezeki nomplok!" jawab Anto sambil menunjukkan kartu nama Bu Atik.
Sementara itu, di sebuah laboratorium rahasia, seorang profesor sedang memperhatikan sebuah proyek zirah terbang dengan seksama. Ruangan itu dipenuhi dengan peralatan canggih dan layar-layar komputer yang menampilkan berbagai data dan grafik.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya sang profesor pada seorang staf yang berdiri di sampingnya.
"Semua sesuai jadwal, Profesor. Kami sudah menyelesaikan fase kalibrasi dan pengujian awal."
Profesor itu mengangguk puas, mengamati zirah putih yang terpajang di tengah ruangan. "Bagus. Pastikan semua berfungsi dengan sempurna. Kita tidak punya ruang untuk kesalahan."
Setelah memberikan beberapa instruksi lagi, profesor itu beranjak meninggalkan ruangan. Lampu-lampu dimatikan, menyisakan hanya sedikit pencahayaan.
Dalam keremangan, siluet zirah itu tampak jelas. Di bagian kepalanya, terdapat struktur yang menyerupai puncak Tugu Monas—runcing di tengah dengan enam bilah besi yang menyerupai kembang kelapa ondel-ondel, tiga di sisi kiri dan tiga di sisi kanan, memberikan kesan seperti "tanduk" yang mengelilingi helm zirah tersebut.
Zirah itu berdiri diam, menunggu saat untuk "hidup".
BERSAMBUNG..
(CHAPTER 1 TAMAT)
Ide cerita, nama karakter oleh Riantrie
Desain visual di-generate oleh AI, belum menjadi rancangan yang mutlak dan konsisten.
Disclaimer: Cerita ini hanya bersifat pengenalan karakter dan atmosfer yang dibangun. Dialog serta beberapa narasi disempurnakan oleh AI dengan sentuhan manusia, menggunakan prompt yang detail dan orisinal dari satu adegan ke adegan lain.
Komentar
Posting Komentar